Salam Pembuka

Assalamu'alaikum....Ahlan Wa Sahlan Fii Huduurikum...

Selasa, 27 November 2012

perang khaibar


PERANG KHAIBAR

Tidak lama setelah Rasulullah kembali ke Madinah dari Hudaibiyyah, kurang lebih selama 15 hari, beliau sudah memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap-siap menyerang Khaibar. Yang turut berperang bersamanya adalah mereka yang ikut menyaksikan Perjanjian Hudaibiyyah.
Sebelum berangkat ke Hudaibiyyah, telah sampai kepada beliau bahwa Yahudi Khaibar telah mengadakan konspirasi dengan Quraisy untuk menyerang Madinah dan menghukum kaum Muslimin. Konspirasi ini dilakukan secara rahasia. Menghadapi hal tersebut, langkah pertama yang ditempuh Rasul adalah mengikat perjanjian damai dengan pihak Quraisy. Dengan demikian, beliau bisa mencurahkan seluruh waktu dan tenaganya untuk menghadapi Yahudi. Tatkala perjanjian Hudaibiyyah telah berjalan secara sempurna, maka dengan perjanjian itu, Khaibar terisolir dari Quraisy. Rasul bisa langsung menyelesaikan sisa strateginya yang belum dilaksanakan, yaitu menghukum Yahudi Khaibar. Oleh sebab itu, sekembalinya dari Hudaibiyyah, beliau memerintahkan para sahabatnya untuk menyiapkan pasukan menghadapi Khaibar. Beliau berangkat bersama-sama dengan 1.700 Muslim, 100 di antaranya menunggang kuda. Mereka seluruhnya percaya dengan pertolongan Allah. Dalam waktu 3 hari, mereka berhasil membuka pos-pos jalan yang menghubungkan Khaibar dan Madinah. Hampir-hampir penduduk Khaibar tidak merasakan kehadiran kaum Muslimin, sehingga pasukan ini bisa bermalam di depan benteng mereka sampai waktu subuh. Pagi-pagi setelah subuh, para pekerja Khaibar, seperti biasanya, hendak keluar ke ladang-ladang pertanian mereka dengan membawa sekop dan keranjang. Namun, ketika tiba di luar, mereka melihat pasukan kaum Muslimin, spontan mereka lari ke perbentengannya sambil berteriak-teriak, 'Ado Muhammad bersama pasukannya!" Mendengar teriakan itu, Rasul bersabda, `Allah Akbar! Runtuhlah Khaibar! Sesungguhnya ketika kita turun di halaman suatu kaum, maka pagi yang buruk milik orang-orang yang terancam."

Dengan jantung berdebar-debar, Yahudi menunggu serangan Rasul. Mengapa serangan Rasul ini terjadi? Perlu diketahui, ketika kabar perjanjian Hudaibiyyah sampai kepada mereka, dan Quraisy telah mengikat perjanjian dengan Rasul, mereka menganggapnya sebagai bentuk penarikan mereka dari persekutuannya dengan Quraisy. Lalu sebagian mereka dengan sebagian lain saling berpesan untuk segera menghimpun kelompok dari kalangan mereka sendiri, dan dari Yahudi Wadi Qura dan Taima'. Mereka mengadakan konspirasi internal untuk menyerang Yatsrib tanpa mempedulikan lagi prinsip-prinsip yang dianut suku-suku Arab dalam peperangan, apalagi setelah Quraisy mengikat perjanjian dengan Muhammad. Sedangkan kelompok Yahudi lainnya memandang perlu untuk masuk dalam persekutuan bersama Muhammad, dengan harapan hal itu bisa menghapus kebencian yang melekat dalam jiwa kaum Muslimin terhadap mereka. Kaum Yahudi saling mengingatkan tentang masalah ini, karena merasakan adanya bahaya yang mengancam. yang dekat dengan mereka. Mereka juga mengetahui bahwa Muhammad telah membongkar rahasia konspirasi mereka dengan Quraisy. Mereka sadar bahwa Muhammad pasti akan menyerang mereka.
Faktanya mereka tidak sempat menunggu datangnya serangan Muhammad, karena beliau sudah lebih dulu datang. Mereka mengalami kebingungan ketika Muhammad datang dengan pasukannya. Mereka segera meminta bantuan Ghathfan, sambil berusaha tetap tinggal di dalam benteng yang sudah dikepung Muhammad. Mereka bertekad akan mempertahankan diri dengan benteng mereka. Namun, pukulan pasukan kaum Muslimin sangat cepat. Pertahanan dan perlawanan mereka tidak ada artinya. Semua pertahanan mereka goncang dan akhirnya runtuh, sehingga keputus-asaan menguasai mereka. Mereka meminta damai kepada Rasul dengan jaminan tidak akan menumpahkan darah kaum Muslimin. Rasul menerima permintaan mereka, dan membolehkan mereka untuk tetap tinggal di wilayah tersebut. Ketika tanah dan kekayaan alam mereka dikuasasi Rasul, sesuai dengan hukum penaklukkan. Rasul memutuskan mereka untuk tetap tinggal di Khaibar, agar bisa tetap bekerja mengelola kekayaan tersebut dengan pembagian: separuh untuk mereka dan separuh sisanya untuk Rasul. Mereka setuju. Kemudian Rasul kembali ke kota Madinah, dan tinggal untuk beberapa waktu hingga beliau keluar untuk umrah qadha'.
Dengan keberhasilan beliau menghukum kekuasaan Khaibar seara politis dan menundukkan mereka di bawah .kekuasaan kaum Muslimin, berarti Rasul berhasil mengamankan bagian Utara Jazirah hingga ke wilayah Syam. Keberhasilan ini dicapai sebagaimana keberhasilan beliau mengamankan wilayah Selatan Jazirah. Semuanya terjadi setelah perjanjian Hudaibiyyah. Jalan dakwah di jazirah Arab telah terbuka, begitu juga jalan dakwah di luar Jazirah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar